Sumber : http://m-wali.blogspot.com/2011/04/membuat-readmore-otomatis-di-blog.html#ixzz1ghJyPzUY
CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS »

Selasa, 03 Juli 2012

Ilangnya Moralitas dan Budaya Bangsa


Dini hari yang dingin menghantarkan saya berkutat dengan tema "Menyoal Moralitas dan Budaya". Hal pertama yang mengganggu di benak saya adalah kata "Menyoal". Tetapi, karena sudah sepakat dengan penggagas ide (Trimatra) maka sayapun sepakat dengan beliau. Tidak pada persoalan batas antara moralitas dan budaya timur dan barat, tapi lebih kepada bagaimana kita melihat masalah ini sebagai sesuatu yang membumi secara universal (ketika kita berinteraksi di dunia fana ini) tanpa kita harus kehilangan jati diri kita.

            Ya, bagi saya pribadi hakekatnya barat dan timur itu intinya sama saja. Sama-sama bertujuan akhir mensejahterakan umat manusia. Bila moralitas dan budaya barat lebih menekankan pada kebebasan berpikir dan bertindak secara bertanggung jawab, maka moralitas dan budaya timur pada kesantunan ketimurannya. Dan jati diri budaya kita tidak sekedar pada hal-hal yang sifatnya artificial, sekedar memakai batik, bangga pada wayang, songket, dan sebagainya.

            Kembali ke ide bagaimana kita melihat masalah ini sebagai sesuatu yang membumi secara universal tanpa kita harus kehilangan jati diri kita. Saya kira ini soal mengawinkan ide dan soul Barat dan timur tersebut. Secara pribadi saya bangga dengan budaya Sumatera Selatan yang saya miliki. Bagaimana saya dibesarkan dengan legenda Si Mata Empat dan si Pahit Lidah. Anak perempuan harus hormat dan segan kepada saudara laki-lakinya. Saudara laki-laki harus menyayangi dan menjaga saudara perempuannya. Perempuan harus tegar (ini adat budaya komering ala orang tua saya). Kalau datang ke pesta sesekali menggunakan songket Palembang. Tiap hari Jum'at saya memakai batik, kadang batik khas Palembang. Di luar itu jiwa saya suka melesat mengembara dengan kebebasan berpikir dan bertindak secara bertanggung jawab milik barat yang sebut di atas, tanpa saya harus mengamalkan ide "freesex", atau prinsip hedonis mereka yang berlebihan. Cara ini tentu saja masih saya akan pilah-pilah mana yang baik untuk saya teruskan kepada anak cucu saya.

            Menyikapi moralitas bangsa kita yang akhir-akhir ini, he, memang membuat miris. Sebagian besar masyarakat kita telah kebarat-baratan secara salah kaprah. Lihatlah kasus video porno mirip artis yang sekarang merebak. Mencengangkan dan membuat bergidik. Kalaulah hal tersebut disebabkan mereka mengamalkan budaya "freesex" barat, itu karena pengamalannya setengah-setengah. Hanya mau melakukan kebebasan berpikir dan bertindak tapi tidak dilakukan secara bertanggung jawab. Melakukan freesex, tapi masih malu untuk mengakui. Tidak siap dengan resiko yang akan dihadapi. Ini juga akibat budaya"malu" timur kita yang diteggakkan tidak pada tempatnya. Berani berbuat tapi malu mengakui.

            Tapi.....ya seperti kita ketahui bersama urusan moral adalah urusan pribadi masing-masing kita. Faktanya, mau tidak mau kita semua (masyarakat, pemerintah, lembaga/institusi swasta), harus juga memikirkan hal ini. Bagaimana membekali anak-anak kita dengan bekal moral yang cukup dan kepribadian yang kuat. Hal yang bisa dilakukan lewat kurikulum sekolah, dan bagaimana masyarakat sendiri (hal terkecilnya adalah keluarga) membekali anak-anaknya dengan bimbingan moral agama dan kearifan lokal milik kita. Hal disebut Astri Ivo sebagai Imunisasi Jiwa. Kita bisa kalau kita mau.

            Saya tercenung kawan. Pikiran saya tiba-tiba lekat pada sang ilalang. Lihatlah ilalang. Ilalang ada di timur dan barat. Sebagaimana angin akan membawa bunganya melintasi timur dan barat tanpa ia kehilangan akar tempatnya tumbuh. Ia tetap kokoh berada di tempatnya. Tumbuh dengan bersahaja. Ia tegar meski angin selalu bertiup menggoyangnya. Begitulah seharusnya kita mempertahankan jati diri kita.

READMORE - Ilangnya Moralitas dan Budaya Bangsa

Budaya Terhadap Rasa Malu


Dengan judul ini saya jadi teringat bukunya Mochtar Lubis yang berjudul Manusia Indonesia,  beliau mengatakan bahwa bangsa ini memiliki jiwa hipokrit serta segan dan enggan bertanggung jawab atas perbuatannya. Bisa jadi, hal inilah yang menjadi akar permasalahan atas makin keropos dan hilangnya budaya malu bangsa kita saat ini.

            Sudah benar-benar hilangkah budaya malu bangsa kita, bangsa ini? Mungkin tidak terlalu sulit menjawab pertanyaan tersebut ketika kita mau melihat realita dan problematika yang terjadi di negeri kita sekarang ini. Dimana-mana, hampir dalam semua aspek kehidupan, sepertinya semakin banyak perilaku yang mengindikasikan bahwa budaya malu itu sudah semakin keropos (atau justru sudah hilang) dari diri masyarakat kita. Hampir semua pihak yang berada di sektor kehidupan Indonesia telah kehilangan identitasnya sebagai seorang yang memiliki budaya malu, baik malu pada diri sendiri, malu pada orang lain dan terutama malu pada Allah SWT. Yang pejabat tidak bisa menunjukkan diri sebagai orang yang pantas disebut sebagai ‘pejabat’, yang public figur tidak mampu memberikan teladan yang pantas sebagai orang yang bisa dijadikan sebagai ‘figur’, dll.

            Padahal budaya malu merupakan perisai kita dari melakukan perbuatan yang ‘kurang pantas’. Jika manusia sudah tidak punya lagi rasa malu, maka manusia akan berbuat apa saja, bahkan melakukan perbuatan yang lebih rendah daripada binatang. Dan ironisnya justru inilah yang sekarang ini terjadi, di era yang sering disebut-sebut sebagai era globalisasi, mencari budaya malu itu seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami. Duh..

            Kini banyak orang mengaku beragama, tapi tidak segan-segan lagi mengabaikan nilai agamanya. Tidak malu untuk mengambil yang bukan haknya, tidak malu untuk melakukan tindakan asusila. Sudah tidak terhitung lagi pelaku yang diselidik, disidik, tersangka, terdakwa, terpidana, yang masih sempat mengumbar senyuman saat menjalani proses peradilan seolah tidak terjadi kesalahan apa-apa. Kita mungkin hanya bisa mengelus dada karena mereka sama sekali tidak merasa malu atau setidaknya risih atas tindakannya.

            Saya percaya, sebenarnya hanya segelintir saja orang yang berbuat ‘kurang pantas’ tersebut, masih lebih banyak dari kita yang menjunjung nilai moralitas. Namun (seperti kata Bapak Mario Teguh) sering kali yang sedikit itu merepotkan dan menggelisahkan yang banyak. Jadi, marilah kita putus saja rantai manusia tidak berbudaya malu yang masih tersebar di pertiwi ini. Sudah saatnya malu menjadi budaya yang harus senantiasa dijaga dan dipelihara, baik oleh individu, kelompok, terlebih oleh bangsa ini.

            Orang yang malu, akan menjaga isi kepalanya supaya tidak berpikir untuk melakukan perbuatan negatif. Orang yang merancang perbuatan maksiat, berarti dia tidak malu kepada Allah, karena Allah Maha Mengetahui apa yang tampak dan yang tersembunyi. Begitu pula rasa malu dalam mengisi perut. Artinya, segala yang masuk ke dalam perut haruslah sesuatu yang halal, tidak boleh yang haram. Juga tidak boleh memakan sesuatu dari hasil yang haram, misalnya mencuri, korupsi, suap menyuap, ataupun merampas hak milik orang lain. Dengan budaya malu, seorang pejabat tidak akan mau melakukan perbuatan korupsi dan kolusi, seorang pedagang tentu tidak akan mengurangi takaran, seorang pelajar tidak akan berbuat curang dalam ujian, suami atau istri tidak akan melakukan perbuatan selingkuh, remaja akan menjauhi segala bentuk narkoba dan hubungan lain jenis di luar nikah.

Setiap kita harus berani menatap cermin dan bertanya pada bayangan yang ada disana, masihkah menghayati etika atau sudah luntur budaya malunya ?

            Dengan budaya malu, kita tidak akan menjadi pribadi yang malu-maluin. Karena dengan budaya malu setiap orang akan menjaga dirinya dari perbuatan yang dilarang agama maupun norma susila. Pada gilirannya nanti, akan tercipta masyarakat yang religius dan berbudaya.

“Hiduplah sesukamu tapi engkau pasti mati, berbuatlah sesukamu tapi pasti engkau akan dibalas (sesuai perbuatanmu itu) [Nasihat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW – Sahl bin Said]”.
READMORE - Budaya Terhadap Rasa Malu

Kemajuan Teknologi Terhadap Kebudayaan Indonesia


Budaya Indonesia merupakan kebudayaan yang dapat di artikan sebagai kesatuan dari kebudayaan seluruh wilayah yang ada di Indonesia. Untuk Menumbuhkan rasa cinta Indonesia dalam rangka Mengembalikan Jati diri Bangsa Indonesia perlu di galakkan kembali karena sekarang ini Indonesia sedang mengalami nilai nilai pergeseran dari kebudayaan lokal yaitu kebudayaan asli Indonesia kepada mulainya kecintaan terhadap budaya asing. Dengan majunya teknologi di mana informasi apa saja bisa masuk dalam kehidupan masyarakat kita turut pula mempengaruhi tergesernya nilai nilai budaya Indonesia ini.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kebudayaan maupun teknologi baik dari dalam aupun dari luar. Sekilas kebudayaan dan teknologi dinilai sangatlah bertolak belakang, kebudayaan lebih menitik beratkan kepada sejarah sedangkan teknologi berhubungan dengan trend masa kini. Tidak sedikit orang yang menilai kedua bahasan tersebut demikian. Namun, bila ditelaah lebih dalam lagi pada dasarnya dan sebenarnya kebudayaan sangat berhubungan dengan teknologi. Kebudayaan menghasilkan teknologi, sedangkan teknologi menciptakan kebudayaan dalam masyarakat serta teknologi pertanda kemajuan kebudayaan, dengan kata lain antara kebudayaan dan teknologi sangatlah mempengaruhi.
Teknologi internet merupakan teknologi yang memberikan informasi tanpa batas dan dapat diakses oleh siapa saja. Apa lagi bagi anak muda internet sudah menjadi santapan mereka sehari- hari. Jika digunakan secara semestinya tentu kita memperoleh manfaat yang berguna. Tetapi jika tidak, kita akan mendapat kerugian. Dan sekarang ini, banyak pelajar dan mahasiswa yang menggunakan tidak semestinya. Misal untuk membuka situs-situs porno. Bukan hanya internet saja, ada lagi pegangan wajib mereka yaitu handphone. Rasa sosial terhadap masyarakat menjadi tidak ada karena mereka lebih memilih sibuk dengan menggunakan handphone.
Dilihat dari sikap, banyak anak muda yang tingkah lakunya tidak kenal sopan santun dan cenderung cuek tidak ada rasa peduli terhadap lingkungan. Karena globalisasi menganut kebebasan dan keterbukaan sehingga mereka bertindak sesuka hati mereka. Contoh realnya adanya geng motor anak muda yang melakukan tindakan kekerasan yang menganggu ketentraman dan kenyamanan masyarakat.
Jika pengaruh-pengaruh di atas dibiarkan, mau apa jadinya genersi muda tersebut? Moral generasi bangsa menjadi rusak, timbul tindakan anarkis antara golongan muda. Hubungannya dengan nilai nasionalisme akan berkurang karena tidak ada rasa cinta terhadap budaya bangsa sendiri dan rasa peduli terhadap masyarakat. Padahal generasi muda adalah penerus masa depan bangsa.
READMORE - Kemajuan Teknologi Terhadap Kebudayaan Indonesia

Pengaruh Globalisasi terhadap Kebudayaan Daerah


Indonesia adalah bangsa yang majemuk, terkenal dengan keanekaragaman dan keunikannya. Terdiri dari berbagai suku bangsa, yang mendiami belasan ribu pulau. Masing-masing suku bangsa memiliki keanekaragaman budaya tersendiri. Di setiap budaya tersebut terdapat nilai -nilai sosial dan seni yang tinggi. Pada kondisi saat ini kebudayaan mulai ditinggalkan, bahkan sebagian masyarakat Indonesia malu akan kebudayaannya sebagai jati diri sebuah bangsa. Hal ini mengakibatkan hilangnya keanekaragaman budaya Indonesia secara perlahan-lahan, yang tidak terlepas dari pengaruh budaya luar dan karakter mayarakat Indonesia yang suka meniru.
Globalisasi adalah suatu fenomena khusus dalam peradaban manusia yang bergerak terus dalam masyarakat global dan merupakan bagian dari proses manusia global itu. Kehadiran teknologi informasi dan teknologi komunikasi mempercepat akselerasi proses globalisasi ini. Globalisasi menyentuh seluruh aspek penting kehidupan. Globalisasi menciptakan berbagai tantangan dan permasalahan baru yang harus dijawab, dipecahkan dalam upaya memanfaatkan globalisasi untuk kepentingan kehidupan. Globalisasi sendiri merupakan sebuah istilah yang muncul sekitar dua puluh tahun yang lalu, dan mulai begitu populer sebagai ideologi baru sekitar lima atau sepuluh tahun terakhir. Sebagai istilah, globalisasi begitu mudah diterima atau dikenal masyarakat seluruh dunia. Wacana globalisasi sebagai sebuah proses ditandai dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga ia mampu mengubah dunia secara mendasar. Globalisasi sering diperbincangkan oleh banyak orang, mulai dari para pakar ekonomi, sampai penjual iklan.
Dalam kata globalisasi tersebut mengandung suatu pengertian akan hilangnya satu situasi dimana berbagai pergerakan barang dan jasa antar negara diseluruh dunia dapat bergerak bebas dan terbuka dalam perdagangan. Dan dengan terbukanya satu negara terhadap negara lain, yang masuk bukan hanya barang dan jasa, tetapi juga teknologi, pola konsumsi, pendidikan, nilai budaya dan lain-lain. Konsep akan globalisasi menurut Robertson (1992), mengacu pada penyempitan dunia secara insentif dan peningkatan kesadaran kita akan dunia, yaitu semakin meningkatnya koneksi global dan pemahaman kita akan koneksi tersebut. Di sini penyempitan dunia dapat dipahami dalam konteks institusi modernitas dan intensifikasi kesadaran dunia dapat dipersepsikan refleksif dengan lebih baik secara budaya.
Globalisasi memiliki banyak penafsiran dari berbagai sudut pandang. Sebagian orang menafsirkan globalisasi sebagai proses pengecilan dunia atau menjadikan dunia sebagaimana layaknya sebuah perkampungan kecil. Sebagian lainnya menyebutkan bahwa globalisasi adalah upaya penyatuan masyarakat dunia dari sisi gaya hidup, orientasi, dan budaya. Pengertian lain dari globalisasi seperti yang dikatakan oleh Barker (2004) adalah bahwa globalisasi merupakan koneksi global ekonomi, sosial, budaya dan politik yang semakin mengarah ke berbagai arah di seluruh penjuru dunia dan merasuk ke dalam kesadaran kita. Produksi global atas produk lokal dan lokalisasi produk global Globalisasi adalah proses dimana berbagai peristiwa, keputusan dan kegiatan di belahan dunia yang satu dapat membawa konsekuensi penting bagi berbagai individu dan masyarakat di belahan dunia yang lain.(A.G. Mc.Grew, 1992).
Proses perkembangan globalisasi pada awalnya ditandai kemajuan bidang teknologi informasi dan komunikasi. Bidang tersebut merupakan penggerak globalisasi. Dari kemajuan bidang ini kemudian mempengaruhi sektor-sektor lain dalam kehidupan, seperti bidang politik, ekonomi, sosial, budaya dan lain-lain. Contoh sederhana dengan teknologi internet, parabola dan TV, orang di belahan bumi manapun akan dapat mengakses berita dari belahan dunia yang lain secara cepat. Hal ini akan terjadi interaksi antarmasyarakat dunia secara luas, yang akhirnya akan saling mempengaruhi satu sama lain, terutama pada kebudayaan daerah,seperti kebudayaan gotong royong,menjenguk tetangga sakit dan lain-lain. Globalisasi juga berpengaruh terhadap pemuda dalam kehidupan sehari-hari, seperti budaya berpakaian, gaya rambut dan sebagainya.
READMORE - Pengaruh Globalisasi terhadap Kebudayaan Daerah

PENGARUH GLOBALISASI TERHADAP KEBUDAYAAN INDONESIA


Tulisan artikel ini dapat mengamati perkembangan bangsa Indonesia apakah berpengaruh besar terhadap kehidupan sehari-hari mereka. Adapun Pengaruh Globalisasi Terhadap Kebudayaan Indosesia  .
1.        Globalisasi adalah suatu proses tatanan masyarakat yang mendunia dan tidak mengenal batas wilayah.
  1.  Globalisasi pada hakikatnya adalah suatu proses dari gagasan yang dimunculkan, kemudian ditawarkan untuk diikuti oleh bangsa lain yang akhirnya sampai pada suatu titik kesepakatan bersama dan menjadi pedoman bersama bagi bangsa- bangsa di seluruh dunia. (Menurut Edison A. Jamli dkk.Kewarganegaraan.2005)
Pengaruh Globalisasi Terhadap Pluralisme Kebudayaan Manusia di Negara Berkembang.internet.public jurnal.september 2005. Sebagai proses, globalisasi berlangsung melalui dua dimensi dalam interaksi antar bangsa, yaitu dimensi ruang dan waktu. Dimensi  Ruang makin dipersempit dan Dimensi waktu makin dipersingkat dalam interaksi dan komunikasi pada skala dunia. Globalisasi berlangsung di semua bidang kehidupan seperti bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan keamanan dan lain- lain. Teknologi informasi dan komunikasi adalah faktor pendukung utama dalam globalisasi. Dewasa ini, perkembangan teknologi begitu cepat sehingga segala informasi dengan berbagai bentuk dan kepentingan dapat tersebar luas ke seluruh dunia.Oleh karena itu globalisasi tidak dapat kita hindari kehadirannya.
Kehadiran globalisasi tentunya membawa pengaruh bagi kehidupan suatu negara termasuk Indonesia. Pengaruh tersebut meliputi dua sisi yaitu pengaruh positif dan pengaruh negatif. Pengaruh globalisasi di berbagai bidang kehidupan seperti kehidupan politik, ekonomi, ideologi, sosial budaya dan lain- lain akan mempengaruhi nilai- nilai nasionalisme terhadap bangsa.
Ø  Pengaruh positif globalisasi terhadap nilai- nilai nasionalisme
1. Dilihat dari Globalisasi Politik
2. Dari Aspek Globalisasi Ekonomi
3. Dari Globalisasi Sosial Budaya

Ø  Pengaruh negatif globalisasi terhadap nilai- nilai nasionalisme
1. Globalisasi mampu meyakinkan masyarakat Indonesia bahwa liberalisme dapat membawa kemajuan dan kemakmuran.
 2. Dari Globalisasi Aspek Ekonomi, hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri karena banyaknya produk luar negeri (seperti Mc Donald, Coca Cola, Pizza Hut,dll.) membanjiri di Indonesia. Dengan hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri menunjukan gejala berkurangnya rasa nasionalisme masyarakat kita terhadap bangsa Indonesia.
3. Mayarakat kita khususnya anak muda banyak yang lupa akan identitas diri sebagai bangsa Indonesia, karena gaya hidupnya cenderung meniru budaya barat yang oleh masyarakat dunia dianggap sebagai kiblat.
4. Mengakibatkan adanya kesenjangan sosial yang tajam antara yang kaya dan miskin, karena adanya persaingan bebas dalam globalisasi ekonomi. Hal tersebut dapat menimbulkan pertentangan antara yang kaya dan miskin yang dapat mengganggu kehidupan nasional bangsa.
5. Munculnya sikap individualisme yang menimbulkan ketidakpedulian antarperilaku sesama warga. Dengan adanya individualisme maka orang tidak akan peduli dengan kehidupan bangsa.
Pengaruh- pengaruh di atas memang tidak secara langsung berpengaruh terhadap nasionalisme. Akan tetapi secara keseluruhan dapat menimbulkan rasa nasionalisme terhadap bangsa menjadi berkurang atau hilang. Sebab globalisasi mampu membuka cakrawala masyarakat secara global. Apa yang di luar negeri dianggap baik memberi aspirasi kepada masyarakat kita untuk diterapkan di negara kita. Jika terjadi maka akan menimbulkan dilematis. Bila dipenuhi belum tentu sesuai di Indonesia. Bila tidak dipenuhi akan dianggap tidak aspiratif dan dapat bertindak anarkis sehingga mengganggu stabilitas nasional, ketahanan nasional bahkan persatuan dan kesatuan bangsa.
READMORE - PENGARUH GLOBALISASI TERHADAP KEBUDAYAAN INDONESIA